NEWS


Amartha, Pemberdaya Perempuan Papa


KBR68H - Desa-desa di Kecamatan Ciseeng, Bogor tercatat sebagai wilayah yang termiskin di Jawa Barat. Padahal, jaraknya hanya 60 kilometer saja dari ibukota. Warga di desa-desa itu kesulitan mengakses modal untuk usaha. Mereka terlalu miskin untuk meminjam modal di bank yang mensyaratkan jaminan. Padahal, banyak usaha yang dapat dikembangkan di sana. Lembaga keuangan mikro Amartha hadir menolong mereka dengan memberikan pinjaman lunak bagi warga di Ciseeng. Sasarannya adalah kaum perempuan dengan harapan mereka dapat berdaya dan meningkatkan penghasilan keluarga. Reporter KBR68H Mellie Cynthia mengunjungi desa-desa di Ciseeng, Bogor memotret upaya pemberdayaan perempuan di sana.

Pinjaman Lunak

Jalanan menuju Desa Cibeuteung Udik, Ciseeng, Bogor masih berupa tanah selebar kira-kira 1 meter. Sebagian agak berlumpur akibat hujan. Di desa ini memang belum tersedia akses jalan beraspal. Untuk masuk ke desa ini memakan waktu sekitar setengah jam dengan sepeda motor dari Kabupaten Parung, Bogor. Di kiri-kanan terlihat sawah-sawah dan gubug penduduk.

Asmanah baru saja pulang selepas mencari keong di sawah. Itulah kegiatan rutinnya setiap hari dari pagi hingga siang. Keong-keong di dalam ember itu untuk pakan 13 bebeknya yang ia beli sejak setahun lalu.

Asmanah beternak bebek untuk dijual telurnya. Ia tidak bisa sepenuhnya bergantung dari penghasilan suaminya 50 ribu rupiah per hari sebagai buruh tani.

"Ya saya ingin sendiri saja pelihara bebek, buat bantu-bantu suami, jajan anak kan dari jualan telor. Satu telor dijualnya 1.000 rupiah. Dulu beli masih kurus-kurus, saya kasih makan terus, 2 minggu baru dia nelorin, kadang 10-11 telor sehari. Cukup gak cukup lah untuk keluarga", kata Asmanah sambil tertawa.

Asmanah bercerita, awalnya ia tidak punya uang untuk membeli bebek. Ia takut meminjam dari bank karena tidak punya harta benda yang bisa dijaminkan. Apalagi, uang yang ia butuhkan juga tidak banyak. Karena itu, saat Koperasi Amartha Indonesia menawarkan pinjaman tanpa jaminan dengan bunga rendah, ia pun langsung mengiyakan.

"Yang 3 sisa dari bapaknya, dari Amartha cuma kebeli 10 ekor. Dapat pinjaman 500 ribu buat beli bebek, 1 bebek 40 ribu. Yang 100 lagi buat bikin kandangnya. Tadinya saya tidak niat mau pinjam, tapi kata orang, ada yang mau kasih duit, buat beli bebek dan kambing."

Sebelumnya Asmanah sudah 8 tahun beternak bebek. Tapi semua ternak itu ia jual saat anaknya sakit-sakitan. Kemudian ia tak sanggup lagi membeli bebek. Asmanah tak berani meminjam uang di bank.

"Belum pernah, takut tidak kebayar."

Untuk uang 500 ribu rupiah yang dipinjam dari Amartha, Asmanah cukup membayar cicilan 13.600 rupiah per minggu selama setahun. Jumlah itu sudah termasuk bunga sekitar 20 persen. Saat ini, ia hampir melunasi pinjamannya. Tahun depan, ia berencana meminjam 1 juta rupiah untuk menambah modal usaha jualan telur bebek.

"Mau beli bebek lagi, ini kan cuma ada 13, kalau udah sakit kan dijual, beli harganya 40 ribu jual cuma laku 20 ribu kadang 15 ribu, apalagi kalau kakinya tidak bisa jalan. Kata bapaknya, beli saja lagi 10 bebek, sisanya buat beli seragam anak dan sepatu sekolah."

Dengan pinjaman 500 ribu rupiah per tahun dari Koperasi Amartha Indonesia, hidup Asmanah terbantu. Menurut pendiri Koperasi Amartha Indonesia, Andi Taufan, pinjaman 500 ribu rupiah per tahun ini pas untuk memulai usaha skala rumah tangga bagi masyarakat desa.

Nilai 500 ribu itu kita sudah survey ke desa, kalau mau memulai usaha berapa umumnya, standarnya, resikonya juga bisa kami kelola. Resiko perorangan cukup kecil, itu bisa memberi nilai tambah, bisa memberikan modal awal dan berputar usahanya. Ketika mereka sudah siap dengan pembiayaan lebih besar, setahun mereka bisa akses modal lebih besar lagi, yakni satu juta rupiah.

Taufan menambahkan, maksimal peminjaman yang ditawarkan Amartha adalah 3 juta rupiah per tahun. Jika lebih dari itu, maka usaha si peminjam dinilai sudah cukup berkembang sehingga mampu meminjam dari bank atau pun lembaga keuangan lainnya.

Ketua RT di Kampung Cigelap, Cibeuteung Udik, Dadang mengatakan, banyak potensi ekonomi desa yang bisa dikembangkan berkat kehadiran Koperasi Amartha.

"Ya namanya di kampung, pengalaman dan pendidikan kurang. Kalau ada modal, Insya Allah bisa nambah penghasilan. Ada kerajinan tangan, dagang keliling kampung, ada yang punya ternak bebek, yang banyak ternak bebek, udah merasakan hasil dan buktinya."

Dadang menyayangkan sikap pemda serta bank yang enggan memberikan pinjaman modal kepada masyarakat desa, apalagi kaum perempuan. Ada anggapan umum, jika berinvestasi di pelosok desa maka sudah pasti akan merugi.

"Setahu saya memang belum ada dukungan dari pemerintah. Mungkin pemerintah juga melihat keadaan, apa yang menguntungkan dari desa ini?"

(Kenapa tidak mencoba pinjam bank?)

"Bukan tidak mau orang di kampung pinjam duit ke bank, banyak dah syarat-syaratnya. Permintaan orang Bank, ditanya usaha? Boro-boro buat usaha, tidak ada modal gimana usahanya. Kita kan mengajukan untuk buat usaha, gimana mau maju?"

Koperasi Amartha yang dibentuk sejak 2009 lalu ini memang bertujuan menggerakkan roda ekonomi desa melalui pemberdayaan kaum perempuan. Tujuannya untuk mempersempit jurang kesenjangan antara warga kota dan desa. Seratus persen anggota koperasi adalah perempuan. Bagaimana koperasi ini berjalan ?

Perempuan Berdaya

Belasan perempuan berkumpul di teras sebuah rumah di Desa Putatnutug (Baca: PU-TAT-NU-TUK), Kecamatan Ciseeng, Bogor. Di antara mereka, tak sedikit yang menggendong anak balitanya. Mereka adalah anggota Kelompok Mawar Koperasi Amartha. Pertemuan kelompok ini digelar saban Kamis siang.

Ibu-ibu Putatnutug itu membacakan ikrar kelompok. Isinya antara lain, perempuan ikut bertanggung jawab pada pendapatan keluarga, menjamin anak tetap sekolah, membayar pinjaman, dan saling membantu antaranggota kelompok.

Kelompok Mawar adalah salah satu dari 60-an kelompok perempuan binaan Koperasi Amartha di Ciseeng. Saat ini, total anggotanya berkisar 1.000 perempuan yang tersebar di tujuh desa.

Setelah pembacaan janji selesai, pendiri sekaligus petugas lapangan Koperasi Amartha, Andi Taufan dan rekannya, Aji mulai menghitung setoran cicilan pinjaman. Rentang cicilan berkisar antara 12 ribu hingga 14 ribu rupiah per minggu. Ini tergantung dari bagi hasil usaha dan kemampuan per orang. Jika ada anggota kelompok yang tidak disiplin melunasi cicilan, maka Amartha menerapkan sistem tanggung renteng, yakni seluruh anggota kelompok yang bertanggung jawab membayar.

Syarat untuk menjadi anggota Amartha tidak sulit. Selain wajib hadir dalam pertemuan kelompok, mereka juga harus sudah menikah dan mendapat izin suami. Syarat menikah sesuai dengan tujuan Amartha agar pinjaman itu bisa membantu meningkatkan penghasilan keluarga. Ijin suami diperlukan karena pinjaman itu harus dikelola bersama dalam keluarga.

Tak hanya menyetor cicilan pinjaman, mereka pun juga diajarkan menabung setiap minggu. Tanpa bunga dan potongan.

Koperasi Amartha bergerak dari keprihatinan Andi Taufan akan sulitnya akses modal bagi masyarakat desa. Amartha menyasar kaum perempuan, karena menurut pemuda berusia 24 tahun itu, perempuan punya peran penting meningkatkan kesejahteraan keluarganya.

"Ketika perempuan punya peran bisa memberikan penghasilan tambahan buat keluarga, kita memberdayakan perempuan, punya posisi tawar di keluarganya, yang tadinya dia hanya menerima uang sehari-hari buat dibelanjakan, di sini dia bisa menghasilkan uang buat apa yang mereka rencanakan. Dia prioritaskan itu untuk keluarga dan anak-anak untuk sekolah, kualitas hidup meningkat, punya sanitasi lebih baik, dari kamar mandi luar jadi di dalam. Yang tadinya rumah ada yang masih panggung, di plester pakai semen dan bilik jadi bata."

Taufan juga mengajak investor untuk mau berpartisipasi dalam peminjaman modal skala kecil.

"Sebenarnya, keuntungan yang mereka dapat nilainya lebih besar daripada mendepositokan di bank, contohnya mereka yang berinvestasi selama 3 tahun, per tahun untung bisa 9-12 persen, kalau deposito di bank paling tinggi 6 persen. Daripada duitnya mengendap di bank, lebih baik uangnya berputar buat orang-orang yang membutuhkan, jadi uang punya arti."

Atas kiprahnya ini, akhir bulan lalu Andi Taufan diganjar penghargaan Satu Indonesia sebagai pelopor gerakan ekonomi mikro untuk masyarakat pedesaan.

Saat ini, semakin banyak perempuan Ciseeng yang ingin mengajukan permohonan pinjaman dari Amartha. Tak sedikit pula yang ingin melanjutkan pinjaman yang lebih besar. Salah satunya, Siti Juhairiah.

"Cari modal buat bapaknya dagang. Dia kan dagang jus buah, jadi buat belanja buah, gula dan es nya. Di Jakarta, di Kebayoran usahanya. Cicilan 13.500 seminggu. Selalu lancar. Insya Allah mau mengajukan pinjaman lagi. Bapaknya lagi mogok usahanya, di Jakarta kan sewa tempat, nah tempatnya diambil alih sama yang punya, sementara mau cari duit lagi buat cari tempat untuk usaha lagi."

Melanjutkan pinjaman juga akan dilakoni Sawinah. Saat ditemui, ia tengah meletakkan gulungan tikar di depan gubugnya. Tikar berukuran 3x3 meter hasil anyamannya itu berdiri tegak di dekat bilik pintu. Janda 60 tahun itu terlihat sumringah meski guratan lelah terpancar dari wajahnya.

Seperti Asmanah dan Siti, Sawinah pun meminjam 500 ribu rupiah dari Amartha. Uang itu untuk biaya sekolah anaknya. Sisanya untuk modal menganyam tikar.

"Untuk anak sekolah, saya pingin lanjut. Apalagi biaya sekolah naik lagi ya, udah 80 sebulan, sekarang 100 saya bingung bagaimana. Kalau berhenti sayang sudah di tengah-tengah. Sisanya untuk beli bahan baku tikar. Jauh beli bahan bakunya di Cilangkap, jalan kaki aja dari sawah."

Meski penghasilannya tak tentu, Sawinah yakin mampu melunasi cicilan pinjaman dan bunganya. Selama ini, ia tak pernah absen membayar cicilan. Ia berencana mengajukan pinjaman lagi di tahun depan.

"Pinjam deh cita-cita pinjam, pingin ganti pagar, kalau ada lebih buat tambahan modal tikar."

(Pinjam 1 juta, yakin bisa bayar ?)

"Insya Allah, doa`in aja supaya bisa bayar. Anak saya bilang, mak sing bisa ?`, iya doa`in aja."

Sumber http://www.kbr68h.com/saga/77-saga/16035-amartha-pemberdaya-perempuan-papa